Tuesday, March 24, 2015

Radikalisme Muncul Bukan Hanya Karena Faktor Agama

Jakarta (Pinmas) —Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan munculnya radikalisme bukan semata-mata faktor agama. Namun paham radikalisme bisa muncul karena faktor lain seperti kondisi tidak meratanya kesejahteraan di sebuah negara.

“Tentu radikalisme tidak bersumber dari agama. Itu bisa dari persoalan sosial, politik dan rasa keadilan,” kata Menag di kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Senin (23/3) usai peluncuran dua buku terbitan Ditjen Pendidikan Islam, yaitu: Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah para Pejuang Pendidikan Islam dan Mutiara Terpendam: Profile para Penerima Beasiswa Pendidikan Islam.

Menag lebih lanjut mengatakan, pemerintah mengupayakan agar radikalisme yang masuk melalui ajaran agama bisa diberantas. “Kami melakukan komunikasi intensif dengan para pendidik pesantren, para tokoh agama, guru agama untuk memberikan pelajaran agama sesuai ajaran sesungguhnya,” jelasnya.

Dengan demikian, lanjut Menag, diharapkan para tokoh agama maupun para pendidik mengajarkan ajaran agama yang sesuai nilai sesungguhnya. Menekankan bahwa radikalisme tidak sesuai ajaran agama.

Terkait dengan masalah buku Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk kelas XI SMA di Jombang, Jawa Timur yang berisikan paham berbau radikalisme, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta segera direvisi. Karena menurutnya, radikalisme tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun.

“Buku itu harus direvisi. Sampai pada penyempurnaan, itu menjadi pengganti (buku lama),” tandasnya.

Menag juga menuturkan, pihaknya melalui Direktorat Pendidikan Islam sudah menyampaikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar khusus terkait materi buku-buku agama itu dikoordinasikan. Konsultasi antara pihaknya dan Kemendikbud agar tercapai kesepahaman muatan kepada peserta didik.

“Itulah kenapa kami sejak lama melalui Direktorat Pendidikan Islam meminta Kemendikbud agar khusus terkait materi agama itu dikoordinasikan,” tutur Menag. (ks/mkd/mkd)

'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu (wafat 35 H)

Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian menganut Islam yang baik dan teguh.


Keutamaannya


Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata,” Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, maka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakaianmu (dipakai untuk menutupinya). Maka Rasulullah menjawab,” Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”.


Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab “Fadhail ash Shahabah” bahwa Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Utsman, maka beliau menjawab,” Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan yang terhormat yang dipanggil dengan Dzunnuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya.



Perjalanan hidupnya


Perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah umat islam adalah beliau membukukan Al-Qura’an dalam satu versi bacaan dan membuat beberapa salinannya yang dikirim kebeberapa negeri negeri Islam. Serta memerintahkan umat Islam agar berpatokan kepadanya dan memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut. Atas Izin allah Subhanahu wa ta’ala, melalui tindakan beliau ini umat Islam dapat memelihara ke autentikan Al-Qur’an samapai sekarang ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang terbaik.


Diriwayatkan dari oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari yunus bahwa ketika al Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid ?. maka ia menjawab,”Aku melihat Utsman bin Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai Khalifah, dan ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata,” Ini amirul mukminin, Ini amirul mukminin..”


Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitabnya “Hulyah al Auliyah” dari Ibnu Sirin bahwa ketika Utsman terbunuh, maka isteri beliau berkata,” Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah menghidupkan seluruh malam dengan Al-Quran”.


Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, seraya ia berkata dengan firman Allah”. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs Az-Zumar:9) yang dimaksud adalah Utsman bin Affan.


Wafatnya

Ia wafat pada tahun 35 H pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzul Hijjah, dalam usia 80 tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij).

PENDIDIKAN AKHLAK UNTUK ANAK-ANAK

Dalam siklus kehidupan manusia, masa kanak – kanak merupakan sebuah periode yang paling penting, namun sekaligus juga merupakan suatu periode yang sangat berbahaya dalam artian sangat memerlukan perhatian dalam kesungguhan dari pihak – pihak yang bertanggung jawab mengenai kehidupan anak – anak. Sebab, seorang anak pada hakekatnya telah tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan maupun keburukan. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya cenderung kearah salah satu dari keduanya. Sebagaimana dalam sabda Nabi Saw :
ما من مولود إلا يولد على الفطرة وإنما أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (رواه مسلم)
Artinya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ( bersih dan suci ); maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. (HR. Muslim) [1]
Oleh karena itu, penanaman pendidikan pada masa itu sangatlah penting agar anak memiliki bekal dalam hidup selanjutnya. Dan pendidikan yang relevan ditanamkan pada masa ini adalah pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak harus dilakukan sejak dini, sebelum kerangka watak dan kepribadian seorang anak yang masih suci itu diwarnai oleh pengaruh lingkungan (millieu) yang belum tentu paralel dengan tuntunan agama.[2]
Al-Qur’an telah memberikan gambaran yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak – anak yang tertuang dalam surat Lukman.
1. Akhlak Kepada Allah
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان : 13)
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman mengatakan kepada anak-anaknya untuk memberikan pelajaran : Hai anakku ! janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah suatu kesalahan besar”. (Q.S. Luqman : 13). [3]
Ayat tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya. Kemudian anak – anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan sholat. Sehingga terbentuk manusia yang senantiasa kontak dengan penciptanya.
يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ (لقمان: 17)
Artinya : “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang munkar…”. (Q.S. Luqman : 17). [4]
2. Akhlak Kepada Orang Tua
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (لقمان : 14)
Artinya :  “Dan kamu perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap dua orang ibu bapaknya : ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kamu kembali ”. (Q.S. Luqman : 14). [5]
Islam mendidik anak-anak untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua sebagai rasa terima kasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anak-anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada orang tua menempati posisi setelah perintah bersyukur kepada Allah.
3. Akhlak Kepada Orang Lain
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي الاَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّه َ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ(لقمان18)
Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Luqman :18). [6]
Kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka dan berjalan dimuka bumi ini dengan congkak. Karena perilaku-perilaku tersebut tidak disenangi oleh Allah dan dibenci manusia.
4. Akhlak Kepada Diri Sendiri
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (لقمان : 19)
Artinya : “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Luqman : 19). [7]
Berbarengan dengan larangan berjalan dengan congkak. Allah memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak menghempaskan tenaga dalam bergaya, tidak melengak-lengok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi berjalan dengan sederhana, langkah sopan dan tegap. Memelankan suara adalah budi yang luhur. Begitu pula percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang (melengking) dalam berbicara termasuk perangai yang buruk.

Demikian Allah Swt telah memberikan contoh kongkret mendidik akhlak anak-anak. Jika setiap orang tua dapat melaksanakannya dengan baik, maka besar harapan anak-anak akan tumbuh menjadi manusia-manusia muslim yang berakhlak luhur. (Hakam Ahmed)

Monday, March 23, 2015

KEWAJIBAN PENYAMPAIAN LHKASN DI LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH

        Dalam rangka pembangunan integritas Aparatur Sipil Negara dan upaya pencegahan serta pemberantasan korupsi melalui penyampaian Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) sebagaimana diwajibkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi telah menerbitkan Surat Edaran MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KEWAJIBAN PENYAMPAIAN LAPORAN HARTA KEKAYAAN APARATUR SIPIL NEGARA (LHKASN) DI LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH. Surat Edaran Tersebut Bisa di Dowload disini.
Terkhusus kepada Pegawai di Lingkup Kantor Kementerian Agama Kuningan, terdapat Surat Edaran Khusus dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kuningan Tetang hal tersebut di atas. Surat Edaran tersebut bisa di download disini, dan Lampiran Form Pengisiannya bisa didownload (disini)

Sunday, March 22, 2015

Perintah Beristiqamah dalam Agama

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (Fushshilat: 30).
"Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan:'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (Al-Ahqaaf: 13).
Dari Sufyan bin 'Abdillah Radhiall?u 'anhu, dia berkata yang artinya, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: 'Aaku telah beriman, kemudian beristiqamahlah'!" (HR Muslim).
Demikian naskah asli dari Mushannif Rahimahullah sebagaimana yang kami tampilkan di atas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam hadis tersebut, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dimintai untuk memberikan suatu nasihat yang amat berguna dan cukup bagi si penanya (perawi hadis) sehingga dia tidak akan bertanya lagi kepada orang lain tentang hal tersebut, lantas beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya agar mengucapkan, "Aku beriman kepada Allah," (serta segala konsekuensinya) kemudian beristiqamah alias memantapkan keimanannya tersebut dalam agama.
Mushannif memberikan sedikit keterangan tentang nama periwayat hadis tersebut, yaitu Sufyan bin 'Abdullah at-Tsaqafi ath-Thaaifi, seorang sahabat dan pernah menjadi penguasa di Thaif pada pemerintahan khalifah 'Umar bin al-Khaththab Radhiall?u 'anhu.
Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan, yaitu perawi hadis setelah itu bertanya lagi kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah! Apa yang engkau paling takutkan dari diriku?" Atau, (dalam riwayat yang lain: "Apa yang harus aku jaga?" Lantas Rasululullah memegang lisannya sembari bersabda, "Ini!" atau dalam riwayat lain: beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memberi isyarat ke arah lisannya.
Perkataan Sufyan bin 'Abdullah ats- Tsaqafi kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis yang kita bahas di atas: "Wahai Rasulullah! ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!" Maksudnya adalah bahwa dia meminta kepada beliau Shallallahu 'alaihi wasallam agar mengajarkannya suatu ucapan yang jaami' (universal, valid) dan juga cukup yang berkaitan dengan ajaran Islam sehingga dia tidak membutuhkan (penjelasan) siapa pun setelah beliau, lalu Nabi bersabda kepada beliau, "Ucapkanlah: 'Aaku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!" Dalam riwayat yang lain, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ucapkanlah: 'Rabb-ku adalah Allah', kemudian beristiqamahlah!"
Redaksi tersebut sepadan dengan firman Allah yang atinya, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (Fushshilat: 30). Dan, firman-Nya, "Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita."
(Al-Ahqaaf: 13).
Istiqamah
Adalah berjalan di jalan yang lurus, yaitu ad-Diinul Qayyim tanpa adanya kepincangan, baik ke kanan maupun ke kiri. Jadi, mencakup pelaksanaan segala bentuk ketaatan kepada Allah, baik yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah serta meninggalkan semua larangan-larangan-Nya. Dengan demikian wasiat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ini menjadi universal dan mencakup semua ajaran-ajaran agama.
Di antara istilah lain yang berkaitan dengan istiqamah adalah sebagaimana yang disebutkan dalam kitab ash-Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Bertindaklah kalian secara benar yang mencapai tujuan/sasaran (as-sadaad) dan bermuqarabah-lah (lakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan)."
As-Sadaad
Adalah hakikat dari istiqamah, yaitu bertindak benar dalam semua perkataan, perbuatan dan tujuan sebagaimana orang yang ingin mencapai suatu tujuan lantas dia melakukannya dengan benar. Dalam hal ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan 'Ali agar berdoa kepada Allah memohon as-sadaad dan al-huda (petunjuk). Beliau bersabda kepadanya, "Ingatlah kejituan kamu dalam mengarahkan anak panah ke sasaran (demikian pula tatkala memohon as-sadaad kepada Allah, sebab makna asalnya demikian-red), dan (upayamu mendapat) petunjuk jalan agar kamu sampai ke tujuan perjalanan (demikian pula tatkala memohon petunjuk dari Allah-red)."
Al-Muqaarabah
Adalah melakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan, jika belum mencapai tujuan yang sesungguhnya. Akan tetapi, hal ini dilakukan dengan syarat benar-benar bertekad untuk menuju as-sadaad dan kejituan mencapai tujuan. Jadi, muqarabah yang dilakukannya terjadi dari ketidaksengajaan. Senada dengan hal ini, sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis al-Hakam bin Hazn al-Kulafi, "Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalian tidak akan dapat melakukan ?atau tidak akan mampu (melakukan)- setiap apa yang aku perintahkan kepada kalian, akan tetapi berbuatlah secara as-sadaad (bertindak secara benar yang mencapai tujuan/sasaran) dan berilah kabar gembira. Maknanya: capailah tujuan dan sasaran secara benar serta istiqamah, sebab kalaupun mereka dapat melakukannya sesuai dengan sasaran/tujuan yang ingin dicapai dalam semua perbuatan niscaya mereka telah melakukan semua apa yang diperintahkan kepada mereka (sebab hal itulah yang dituntut-red).
Alhasil, makna asal istiqamah adalah istiqamahnya (ketetapan/kemantapan) hati dalam bertauhid, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan lainnya.
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah' kemudian mereka tetap istiqamah." (Al-Ahqaaf: 13).
Hal ini direalisasikan oleh mereka dengan tidak mengalihkan perhatian kepada selain-Nya. Jadi, bila hati telah mantap (istiqamah) dalam makrifatullah (mengenal Allah), takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, segan terhadap-Nya, mencintai-Nya, menuju kepada-Nya, mengharapkan-Nya, berdoa kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya serta berpaling dari selain-Nya, maka akan mantap (istiqamahlah) seluruh anggota badan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Sebab hati ibarat sang raja bagi seluruh aggota badan, sedangkan anggota badan ibarat tentara-tentaranya. Maka, bila sang raja mantap dan lurus (istiqamah) niscaya tentara-tentara dan rakyatnya akan berbuat demikian.
Obyek yang Perlu Diperhatikan dalam Beristiqamah
Obyek yang paling utama dari seluruh anggota badan setelah hati untuk diperhatikan agar tetap istiqamah adalah lisan. Lisan ibarat penerjemah bagi hati dan juru bicaranya; oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar beristiqamah, beliau mewasiatkan Sufyan (perawi hadits dalam pembahasan kita ini) agar menjaga lisannya.
Di dalam hadis yang tertuang dalam musnad Imam Ahmad dari Anas dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Keimanan seorang hamba tidak akan mantap/lurus (istiqamah) hingga hatinya mantap/lurus, dan hatinya tidak akan mantap hingga lisannya juga demikian."
Hadis dalam sunan at-Turmuzi dari Abu Sa'id al-Khudri secara marfu' dan mauquf: "Bila anak Adam menjelang pagi, maka seluruh anggota badannya akan meminta kaffaarat (jaminan/tebusan) dari lisan, sembari berkata: 'Takutlah kepada Allah terhadap (nasib) kami; jika engkau lurus/mantap maka kami pun akan demikian, dan jika engkau bengkok maka kami pun akan demikian'."
Penafsiran Ulama Salaf tentang Makna "al-Istiqamah"
Penafsiran Abu Bakar ash-Shiddiq:
Beliau berkata mengenai ayat: "?kemudian mereka tetap istiqamah....": "Mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun." Dalam riwayat lain, dia berkata, "Mereka tidak mengalihkan perhatian kepada tuhan yang lain selain-Nya." Dalam riwayat lain lagi dari beliau, "Kemudian mereka tetap istiqamah untuk (menyatakan) bahwa Allah-lah Rabb mereka."
Penafsiran Ibnu 'Abbas:
Terdapat riwayat dengan sanad dha'if (lemah), yaitu perkataan beliau, "Inilah ayat yang paling singkat dalam kitabullah, firman-Nya, "Mereka mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah (meneguhkan pendirian mereka), (yaitu) dalam kalimat syahadat laa ilaaha illallaah. Demikian pula diriwayatkan dalam versi yang sama dari Anas, Mujahid, al-Aswad bin Hilal, Zaid bin Aslam, as-Sudday, 'Ikrimah, dan selain mereka. Dan dalam riwayat lain dari 'Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, dia berkata mengenai firman Allah: "?kemudian mereka tetap istiqamah?"; yaitu mereka tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang diembankan oleh Allah kepada mereka." (R ath-Thabari; dalam periwayatan ini, 'Ali bin Abi Thalhah tidak pernah bertemu dengan Ibnu 'Abbas).
Penafsiran 'Umar bin al-Khaththab:
Terdapat riwayat dari umar dengan sanad munqathi' (terputus) meskipun perawi-perawinya tsiqat, bahwa saat diatas mimbar dia pernah membaca ayat dalam firmanNya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka tetap istiqamah", kemudian mengomentarinya: "?mereka tidak meraung seperti raungan srigala".
Penafsiran Abul 'Aliyah:
Mengenai ayat tersebut dia berkata: "?kemudian mereka mengikhlaskan agama dan amalnya kepada-Nya semata" (Ibnu Katsir melansir hal ini dalam tafsirnya terhadap ayat ini).
Penafsiran Qatadah:
Mengenai ayat tersebut dia berkata, "Mereka tetap istiqamah (konsisten) dalam berbuat taat kepada Allah."
Sikap Hasan Basri:
Ketika mendengar ayat tersebut, al-Hasan berkata, "Ya Allah! Engkau Rabb kami, karenanya anugerahilah kami istiqamah/kemantapan hati (dalam agama)."
Penjelasan Mushannif mengenai Penafsiran Makna "al-Istiqamah"
Mushannif mengomentari: "Barangkali maksud mereka yang mengatakan bahwa makna al-Istiqamah adalah (istiqamah) dalam bertauhid, sesungguhnya hal itu dalam kapasitas maknanya yang universal yang mengharamkan ahlinya masuk ke dalam api neraka; yakni merealisasikan makna laa ilaaha illallaah sebab makna kata al-Ilaah adalah Yang ditaati, baik dalam kondisi takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, segan terhadap-Nya, mahabbah/cinta terhadap-Nya, mengharapkan-Nya, bertawakal ataupun berdoa kepada-Nya, bukan Yang dimaksiati. Sedangkan perbuatan maksiat, semuanya dapat mencacati makna tauhid ini karena tidak lain ditujukan untuk mengabulkan ajakan orang yang menyeru kepada pelampiasan hawa nafsu, yaitu setan. Allah Ta'ala berfirman, "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya...." (Al-Jatsiah: 23).
Al-Hasan al-Bashri dan lainnya berkata, "Orang tersebut adalah orang yang hanya menuruti hawa nafsunya." Dan hal ini bertentangan dengan makna istiqamah dalam bertauhid.
Sedangkan bila berdasarkan periwayatan dengan lafal "Ucapkanlah: 'Aku beriman kepada Allah?"; maka maknanya lebih jelas karena makna iman itu sendiri mencakup seluruh amal saleh menurut ulama salaf dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan ahlul hadis. Dalam hal ini, Allah Ta'ala berfirman, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Huud: 112). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang bertaubat bersamanya agar tetap istiqamah (meneguhkan pendirian) dan tidak melampaui batas dari apa yang diperintahkan kepadanya dan memberitahukannya bahwa Dia Ta'ala Maha Melihat dan Mengawasi semua perbuatan-perbuatan mereka. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, "Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka...." (Asy-Syuura: 15). Qatadah berkata, "Mengomentari ayat ini: "Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan agar tetap istiqamah dalam ajaran Allah." Imam (Sufyan-red) ats-Tsauri berkata, berkaitan dengan ayat tersebut: "(Tetap itstiqamah) dalam menjalankan Alquran."
Ayat-Ayat yang Memerintahkan agar Tetap Istiqamah dalam Bertauhid
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: "Katakanlah: 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya...." (Fushshilat: 6).
Demikian pula, Allah Ta'ala memerintahkan agar menegakkan agama ini secara umum/menyeluruh sebagaimana firmanNya, "Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: 'Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya...'." (Asy-Syuura: 13).
Perintah-Nya dalam banyak ayat agar mendirikan salat semakna dengan kedua ayat tersebut yang memerintahkan agar tetap istiqamah dalam bertauhid.
Cara Mengatasi Keterbatasan dalam Beristiqamah
Keterbatasan dalam beristiqamah yang telah diperintahkan oleh Allah tidak akan dapat dihindari, oleh karena itu sebagai upaya untuk menggantikan dan menyempurnakannya kita diperintahkan untuk memohon ampunan kepada-Nya sebagai bentuk taubat dan kembali ke jalan istiqamah. Hal ini disinggung dalam firman Allah Ta'ala: "?Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya...." ( Fushshilat: 6).
Ayat ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Mu'adz bin Jabal: "Takutlah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah (timbalilah) perbuatan jelek dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus (kejelekan tersebut)." Sebab, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain bahwa manusia tidak akan sanggup beristiqamah dengan sebenar-benar istiqamah. (HR Ahmad).
Istiqamah amat terkait dengan tauhid dan keimanan yang benar terhadap Rabb. Jalan menuju istiqamah amat sulit dan tidak mungkin dapat beristiqamah dengan sebenar-benarnya, karenanya perlu dibarengi dengan istighfar sebagai bentuk taubat dan upaya kembali ke jalan istiqamah. Obyek utama dari anggota badan setelah hati yang perlu dijaga agar dapat beristiqamah adalah lisan. (Al-Sofwa).

'Umar bin al-Khaththab RA (wafat 23 H)

Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafash dan digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah.


Awal Keislamanya.

Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari laki-laki dan perempuan. 
Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a,” Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.

Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut:

Anas bin Malik berkata:” Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau?,” maka Umar menjawab, “ Aku hendak membunuh Muhammad.” Selanjutnya orang tadi bertanya:” Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”. Lalu orang tadi berkata,” Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “barangkali keduanya benar telah berpindah agama”,. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah.
Kemudian Umar berkata: “Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”, maka adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah (berwudhulah/bersuci).”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat,” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhanselain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Shalat untuk mengingatku.” (Qs.Thaha:14). Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui Muhammad.”. Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdo’a “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”. Lalu Umar berangkat menuju tempat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, didepan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata,” jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khaththab, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata,” Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar.”. Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam “Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin”.

Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada Aisyah, “ Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq?”, maka Aisyah menjawab “Rasulullah”.
Hadist Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:” Sungguh telah ada dari umat-umat sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya ‘Umarlah orangnya”. Hadist ini dishahihkan oleh Imam Hakim. Demikian juga Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda,” Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin al-Khaththab orangnya.”.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dia berkata,” Nabi telah bersabda:”Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar”. Anaknya Umar (Abdullah) berkata,” Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku”.


Keberaniannya

Riwayat dari Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata,” Aku tidak mengetahui seorangpun yang hijrah dengan sembunyi sembunyi kecuali Umar bi al-Khaththab melakukan dengan terang terangan”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf sebanyak 7 kali dan mengerjakan shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim.
Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata,” Barang siapa orang yang ibunya merelakan kematiannya, anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, maka temuilah aku di belakang lembah itu”. Kesaksian tersebut menunjukan keberanian Umar bin Khaththab Radhiyallahu’Anhu.


Wafatnya

Pada hari rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi dan Abu Bakar ash Shiddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.


Disalin dari Biografi Umar Ibn Khaththab dalam Tahbaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin Imam Suyuthi

Saturday, March 21, 2015

MEMBUAT SPJ / KWITANSI PALSU ( TIDAK SESUAI )

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum. 
Mau tanya, khususnya kepada ustadz2. Saya ikut organisasi, dan ketika  mengadakan sebuah acara saya ditugaskan sbg bendahara. Sebelumnya saya tidak pernah ikut organisasi, dan tugas bendahara yg saya pikir hanya melaporkan biaya administrasi dan memegang uang saja. setelah acara selesai, ternyata tugas bendahara adalah membuat spj (kuitansi) pengeluaran yg tidak sesuai dengan sebenarnya (memalsukan) untuk mendpatkn komisi/dana. Yang ingin saya tanyakan :
- Bagaimana hukum dana yg kita terima, bila dana tersebut telah diperoleh ? Terima kasih sebelumnya. . .

JAWABAN :
Wa'alaikumsalam.
1. Pembuatan kwitansi SPJ semacam itu termasuk bohong yang dilarang dan diharamkan
2. Dana yang telah diterima harus dikembalikan pada pemberi kecuali bila ia telah mengetahui bahwa yang semacam ini sudah jamak ataupun ada kerelaan dari pihaknya.  Referensi dari kitab Az-Zawaajir an Iqtiraaf al-Kabaair III/237 :
الَّذِي يُتَّجَهُ أَنَّهُ حَيْثُ اشْتَدَّ ضَرَرُهُ بِأَنْ لَا يُحْتَمَلَ عَادَةً كَانَ كَبِيرَةً ، بَلْ صَرَّحَ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ بِأَنَّهُ كَبِيرَةٌ وَإِنْ لَمْ يَضُرَّ فَقَالَ : مَنْ كَذَبَ قَصْدًا رُدَّتْ شَهَادَتُهُ وَإِنْ لَمْ يَضُرَّ بِغَيْرِهِ ، لِأَنَّ الْكَذِبَ حَرَامٌ بِكُلِّ حَالٍ……
وَاعْلَمْ أَنَّ الْكَذِبَ قَدْ يُبَاحُ وَقَدْ يَجِبُ ؛ وَالضَّابِطُ كَمَا فِي الْإِحْيَاءِ أَنَّ كُلَّ مَقْصُودٍ مَحْمُودٍ يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ إلَيْهِ بِالصِّدْقِ وَالْكَذِبِ جَمِيعًا فَالْكَذِبُ فِيهِ حَرَامٌ ، وَإِنْ أَمْكَنَ التَّوَصُّلُ بِالْكَذِبِ وَحْدَهُ فَمُبَاحٌ إنْ أُبِيحَ تَحْصِيلُ ذَلِكَ الْمَقْصُودِ وَوَاجِبٌ إنْ وَجَبَ تَحَصُّلُ ذَلِكَ ، كَمَا لَوْ رَأَى مَعْصُومًا اخْتَفَى مِنْ ظَالِمٍ يُرِيدُ قَتْلَهُ أَوْ إيذَاءَهُ فَالْكَذِبُ هُنَا وَاجِبٌ ؛ لِوُجُوبِ عِصْمَةِ دَمِ الْمَعْصُومِ….
قَالَ الْغَزَالِيُّ بَعْدَ ذِكْرِهِ ذَلِكَ : وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَابِلَ مَفْسَدَةَ الْكَذِبِ بِالْمَفْسَدَةِ الْمُتَرَتِّبَةِ عَلَى الصِّدْقِ فَإِنْ كَانَتْ مَفْسَدَةُ الصِّدْقِ أَشَدَّ فَلَهُ الْكَذِبُ ، وَإِنْ كَانَ بِالْعَكْسِ أَوْ شَكَّ حَرُمَ الْكَذِبُ ، وَإِنْ تَعَلَّقَ بِنَفْسِهِ اُسْتُحِبَّ أَلَّا يَكْذِبَ وَإِنْ تَعَلَّقَ بِغَيْرِهِ لَمْ تَجُزْ الْمُسَامَحَةُ لِحَقِّ غَيْرِهِ ، وَالْحَزْمُ تَرْكُهُ حَيْثُ أُبِيحَ
Juga kitab Hasyiyah Qalyubi III/205  :
( وما يأخذه حرام عليه )…. وحيث حرم لا يملك ما أخذه , ويجب رده إلا إذا علم المعطي بحاله فيملكه , ولا حرمة إلا إن أخذه بسؤال أو إظهار فاقة فيملكه مع الحرمة , وفي شرح شيخنا وحيث أعطاه على ظن صفة وهو في الباطن بخلافها ولو علم به لم يعطه لم يملك ما أخذه
Wallaahu A'lamu Bis Showaab